Khamis, 11 April 2013

Bahasa Al Quran Dari Ilmu Allah swt

Mari Kita Berkongsi Yang Saya Baru Je Tahu..
Bahasa Al Qur’an dari Ilmu Allah….

Tergelitik dari postingan Kenapa Al Qur’an dari bahasa Arab, kemudian diselingi oleh pandangan sedikit liar dari berislam tak usahlah berarab ria lalu uraian sedikit menggelitik dari ahli lingustik muda untuk berjenggot dan bersorban lalu bersalib dan bertapa di klenteng (tentu saja ini guyon

) . Jadi tidak usahlah terlalu menyeriusinya.

Sejumlah huruf “hfahatfjer996derghmdf” atau disusun menjadi sejumlah kata “borokosomoho apakalahahrikaba tarikasaldam” atau tersusun menjadi campuran kata “gajah tidur harimau sleep golden akhwat kum salam amigos permios” atau juga tersusun dalam sebuah urutan kalimat dalam satu bahasa belumlah menjadi sebuah mahakarya atau bahkan menjadi suatu tema atau menjelaskan kejadian. Sejumlah kalimat juga belum menjadi sebuah novel ketika awal dan akhir, dan runtutan belum menjadi penjelas makna.

Tak sedikit pula yang menguraikan bahwa bahasa Arab dipelihara oleh Al Qur’an. Keunikan bahasa Al Qur’an (bukanlah bahasa sehari-hari), namun dengan bahasa ini, yang terpilih menjadi bahasa pengantar Allah kepada manusia. Tentu dijadikan karena memiliki keunggulan yang sulit ditandingi oleh bahasa-bahasa lainnya. Keindahan dalam terjemahan atau asli, nampak dalam rentetan yang dibahas terbatas dalam forum-forum sempit, karena juga kedalamannya yang tak tertandingi. Bukan hanya kemudahan diingat dan dilantunkan, juga berada pada kedalaman struktur, keseimbangan , dan tatanan informasi yang sulit dibandingkan dalam dunia tata tulis manusia sampai kini.

Keindahan Syair. Tampak keindahan syair dari sebuah surat yang sudah top deh :

Qul A-’uu-dzu birabbin-naaaas Malikin-naas Ilaa-hhin-naas Min syarril was waasil khonnaas Alla-dzii yuwaswisu-fii shuduurin-naas Minal jinnati wan-naas

dan pada banyak surat lainnya, tak mudah merasakan keindahan syair jika tidak dalam bahasa aslinya. Penerjemahan, bagaimanapun akan membuat, boleh jadi kehilangan nuansa keindahannya kalau ketepatan penerjemahan dalam ragam bahasa tak berhasil ditampilkan.

Juga kalau kita membaca surat Al Falaq, At Takaatsur, Ar Rahman, dan banyak lagi terasa nuansa syair sebagai salah satu perwujudan keindahan kata yang membuat takjub pendengarnya. Apalagi di masa awal kehadirannya di tanah Arab. Keindahan bahasa itu juga terekam pada karya-karya terjemahan. Ketepatan komposisi bahasa adalah satu keniscayaan sehingga Walid bin Mugirah berkata kepada Abu Jahal (yang memusuhi Nabi) setelah menemui Nabi : “Apa yang harus kukatakan?. Demi Allah, di antara kamu tak ada seorang pun yang lebih tahu dari aku tentang syair, rajaz dan qasidah-nya dan tentang syair-syair jin. Demi Allah, apa yang dikatakan Muhammad itu sedikit pun tidak serupa …. Ucapannya itu sungguh tinggi, tak dapat diungguli, bahkan dapat menghancurkan apa yang ada di bawahnya.“

Jadi maksudnya, dalam ukuran kebahasaan, keindahan bahasanya mengandung hal pokoknya siiip lah.

Ketepatan Ilmiah.

Dari sudut keilmuan, penandaan informasi tersusun begitu jelas dan kemudian ilmu dan pengetahuan mengakui ketepatannya. Struktur informasi dan kata bahkan posisinya tersusun dengan pola yang tak terbayangkan oleh manusia. Misalnya tentang besi, Al Qur’an menjelaskan dengan caranya sendiri yang tak pernah sebelumnya manusia memahaminya.

Ketepatan Matematis Bahasa

Juga keseimbangan informasi, keakuratan posisi kata, keakuratan jumlah, keakuratan bilangan perhitungan, atau sistematikanya yang sengaja saya kumpulkan dari berbagai sumber. Saya yakin masih terlalu sangat banyak (superlatif) yang tidak diketahui manusia dan yang telah diketahui pun, masih penuh ketidaktahuan kita. Tidak ada satu kitab ilmu pengetahuan, novel atau apa saja yang menjadi karya manusia yang mampu membangun komposisi kata dan arti dalam satu pemaknaan yang sangat terstruktur dari mulai jumlah huruf, isi, maupun uraiannya.

Ketepatan peristiwa sejarah, hukum, dan hal lainnya yang dicakup secara amat luas terwakili oleh satu kitab dengan 6346 ayat yang terumuskan atau dapatkah dirumuskan menjadi 6348 ayat yang di dalamnya menjelaskan bagaimana seharusnya manusia hidup, berhubungan dengan sesama, bagaimana memimpin, bagaimana berhubungan dengan pencipta, bagaimana hidup berkeluarga, bagaimana mengatur warisan, bagaimana menggunakan akal, bagaimana… bagaimana… Wah tentu para ahli (mufasir) menjelaskan dari berbagai segi. Memahami dengan cara harfiyah, maknawiyah, tasyiriayah, atau bahkan menta’wilkannya.

Saya kira (prasangka) bahkan definisi-definisi sosialpun (seperti arti kafir, arti muchsin, syirik, jin, setan, ghaib) dan lain sebagainya sangat boleh jadi tersusun secara matematis dan logis. Hanya, kemampuan manusia untuk memahaminyalah yang bertingkat-tingkat. Manalah mungkin memahami ilmu Allah dari kedalaman Al Qur’an, mana mungkin juga menyamai atau menanding!i. Kita hanya bisa memahami pesan tersurat, yang begitu gamblang dipahami itupun hanya seper…. seper… sekian dari yang seharusnya. Sebuah tingkatan yang orang-orang jaman kini mungkin semakin sulit memahami.

Karena itu, saya percaya keterperinciannya. Hanya kemampuan kita memerinci kembali yang menjadi tantangan untuk memahami. Tingkatan yang masih teramat jauh untuk dijangkau. Karenanya, yah… apaboleh buat, dalam banyak hal… mengimani tanpa reserve.

Kita juga melihat :

Karena kepentingan (politik dan golongan) tidak akan disimpangkan kiri kanan pemahaman agama sehingga disebar di jalan lurus menjadi setengah bengkok, dan ada yang benar-benar dibengkokan. Tersebar dalam sejarah Islam yang berdarah-darah. Muncul berbagai aliran bersimpang siur adalah fakta sejarah dan perjalanan yang tidak dipisahkan dari keterampilan berbahasa dan keterampilan menafsirkan untuk dan atas nama agama. Kalau bukan karena Profesor atheis yang ahli agama Islam, ahli bahasa Arab dan bahasa Al Qur’an, maka juga kita bisa melihat bagaimana pemeluk agama di acak-acak. Kalau bukan karena ulama dan kaum cerdik pandai (dalam bahasa dan sastra Arab) yang ikhlas dan berjihad di jalanNya, di dalam ridhaNya, maka tentulah syiar agama tidak tumbuh subur (Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberkahi keselamatan para pewaris Nabi ini). Terasa makin tipis kita memiliki ulama-ulama sekaliber ini (cerdik, berilmu, dan berilmu Al Qur’an, ikhlas dan mencurahkan hidupnya hanya untuk kepentingan ummat)

Tiada ulasan: